[scroll]Kembali
ke awal tahun 2000-an, tepatnya di tahun 2001, ketika dunia perfilman
Indonesia masih berada di dalam era kegelapan, nama Rizal Mantovani
sempat mencuat ke permukaan, setelah karyanya, Jelangkung, berhasil
menyusul Petualangan Sherina menjadi bibit-bibit awal kebangkitan
kembali film Indonesia. Film horror yang digarap dengan sederhana namun
sangat efektif tersebut bergulir secara perlahan namun pasti memperoleh
banyak penonton di layar bioskop, bahkan memicu tren munculnya berbagai
tayangan berbau klenik, tak hanya di layar bioskop, namun juga di layar
televisi nasional.
Walaupun
sempat mengarahkan beberapa film di luar genre horror, Rizal sepertinya
memang dilahirkan untuk menjadi sutradara dari film-film genre
tersebut. Ia kembali mengulang sukses ketika filmnya, Kuntilanak (2006) —
walaupun memperoleh kritikan tajam — berhasil menarik jumlah penonton
yang fantastis, bahkan menjadi film horror Indonesia terlaris hingga
saat ini.
Ketika
berbagai unsur klenik tradisional telah diekspos habis-habisan di layar
lebar, dan ketika sinema horror Indonesia mulai mendapatkan pengaruh
genre slasher horror dari Hollywood, maka Rizal pun sepertinya tidak
ingin ketinggalan untuk mengeksplorasi genre tersebut. Dengan bantuan
Alim Sudio yang menuliskan naskah film, maka lahirlah Air Terjun
Pengantin sebagai sebuah film slasher pertama dari sutradara berusia 42
tahun ini.
Dibintangi
oleh Tamara Bleszynski sebagai Tiara, seorang mantan seorang atlit
wushu yang kemudian mengundurkan diri setelah mengalami kecelakaan yang
membuat dirinya mengalami trauma terhadap gelap, Air Terjun Pengantin
memulai kisahnya ketika Tiara bersama kekasihnya, Lilo (Kieran Sidhu),
mengajak keponakannya, Mandy (Navy Rizky Tavania), dan teman-temannya
yang lain untuk berlibur di sebuah pulau bernama Pulau Pengantin.
Selain
alamnya yang indah, menurut Lilo, pulau ini memiliki sebuah air terjun
yang menurut mitos yang ada, jika seseorang mengucapkan permintaan
mereka di bawah air terjun tersebut, niscaya permintaan tersebut akan
terkabul. Terbuai dengan keindahan alam Pulau pengantin membuat tidak
ada satu pun dari mereka yang mengira bahwa seorang pembunuh keji yang
selama ini berkeliaran di pulau tersebut, akan mengancam nyawa mereka di
sana.
Entah
apa yang berada di benak Rizal Mantovani ketika memfilmkan Air Terjun
Pengantin. Lupakan sisi naskah cerita — yang entah bagaimana hampir
selalu menjadi kesalahan terbesar dari sebuah film Indonesia — Air
Terjun Pengantin, dari sisi teknikal, bahkan tidak dapat diberikan
satupun pujian, apalagi jika mengingat nama besar Rizal Mantovani yang
berada di balik film ini. Gambar yang diberikan oleh oleh film ini
seringkali terlihat terlalu terang di satu adegan, namun bisa cepat
dengan berubah menjadi terlalu gelap di adegan lainnya. Hasilnya, tidak
ada satupun kualitas gambar yang dapat dengan jelas memberikan jalan
cerita yang benar pada film ini.
Gambar
hanyalah sebuah persoalan kecil di film ini. Penataan musik film ini
bahkan lebih parah. Tercatat nama Andi Rianto berada di kursi penata
musik di film Air Terjun Pengantin ini. Namun lihat apa yang telah
dikerjakannya. Tidak ada. Andi sepertinya hanya meletakkan berbagai
susunan musik — musik yang mengejutkan ketika adegan pembunuhan,
orkestra yang mendayu-dayu ketika adegan sedih, dan entah musik
bernuansa apa yang dihadirkan ketika Air Terjun Pengantin sedang tidak
menghadirkan kedua adegan bernuansa sedih maupun pembunuhan — tanpa
memperhatikan esensi emosi dari adegan yang sedang akan ditampilkan.
Selain itu, sering sekali timbul ketimpangan musik latar di berbagai
adegan film ini. Misalkan saja pada adegan pembuka dimana musik latar
memperdengarkan lagu Peterpan, dan kemudian, secara tiba-tiba, snap!,
musik latar berganti dengan musik bernuansa mencekam ketika para
karakter memasuki Pulau Pengantin. Snap! Langsung berganti seperti itu.
Ketimpangan lain yang juga sering terjadi adalah ketika musik latar
terdengar lebih kuat dari dialog para karakter.
Dan
kita sampai di bagian akting… Sebenarnya tidak perlu banyak membahas
departemen akting, karena seluruh pemain film ini sama sekali tidak
berakting. Mereka hanya mengikuti jalan cerita, dimana di satu adegan
mereka diharuskan untuk terlihat ketakutan (dan gagal), terlihat marah
(dan terlihat aneh), terlihat seksi (baiklah… ini mungkin berhasil.
Sedikit), dan terlihat menyebalkan (seluruh pemeran entah bagaimana
berhasil melakukan hal ini, namun tak ada yang dapat melakukannya sebaik
akting tolol yang ditunjukkan Marcel Chandrawinata). Bahkan seorang
Tamara Bleszynski, seorang veteran sinema elektronik Indonesia, yang
sempat beberapa kali meraih penghargaan akting dari peran-peran yang ia
lakukan, sama sekali tidak terlihat berakting. Ia bahkan tidak terlihat
untuk berusaha untuk berakting!
Sebenarnya
tidak ada salahnya untuk meletakkan seks sebagai bagian dari jalan
cerita sebuah film. Namun yang sangat dikeluhkan adalah sineas perfilman
Indonesia sepertinya lebih memfokuskan diri mereka untuk menampilkan
adegan seks sebaik (dan sepanas) mungkin, namun kemudian kedodoran
ketika menyajikan bagian cerita lainnya. Hal ini sangat terasa di Air
Terjun Pengantin (dan di banyak film horror Indonesia lainnya).
Perjalanan Air Terjun Pengantin sendiri telah menyimpan banyak
permasalahan dengan naskah ceritanya yang sangat datar dan buruk. Ini
kemudian berbanding lurus dengan tata gambar, tata suara, tata musik,
editing dan akting para pemerannya. Salah satu pengalaman terburuk yang
pernah terjadi di perfilman Indonesia. Bahkan Koya Pagayo setidaknya
mampu (berusaha) menyelipkan satu dua adegan bagus di
film-filmnya.[/scroll]
Air Terjun Pengantin (2009)




